Rabu, 07 Januari 2015
*NASIHAT BAGI ORANG KAYA*
ABU ABDURRAHMAN HATIM, pernah mendapat gelar "Si tuli". Gelar tersebut diberikan karena ia pernah berpura-pura tuli untuk menjaga malu seorang wanita. Wanita tersebut mengeluarkan "angin" dengan keras di hadapannya. Karena tak ingin menjatuhkan martabat wanita itu, Hatim pura-pura tak mendengarnya.
Hatim berguru pada Syaqiq al-Balkhi, seorang tokoh tasawuf. Hatim bukan hanya cerdas, tapi juga pemberani. Ia berani melakukan kontrol sosial, menasehati siapa saja yang dianggap menyimpang.
Suatu hari, Hatim bersama rombongan melakukan haji. Karena membawa perbekalan yang sedikit, rombongan itu menumpang tidur di rumah seorang saudagar pemurah. Keesokan harinya tuan rumah bertanya kepada Hatim. "Apakah tuan punya keperluan? Kami ingin mengunjungi seorang tokoh Islam yang sedang sakit. "Hatim berkata, "Mengunjungi orang sakit banyak pahalanya, saya akan ikut bersama tuan."
Bersama saudagar itu, Hatim berkunjung ke rumah Muhammad bin Muqatil, seorang tokoh terkenal di negri ar-Ray. Ternyata rumahnya megah, luas dan indah. Hatim tercegang melihatnya tidur di kamar yang mewah. Seorang pelayan mengipas kepalanya. Hatim dipersilahkan duduk, tapi ia tetap berdiri.
"Barangkali ada perlu?" tanya si punya rumah. "Betul, ada masalah yang ingin saya tanyakan? Dari mana tuan memperoleh ilmu ini?"tanya Hatim. "Apakah ada guru tuan, dari sahabat, dari Nabi, dari Allah , tuan mendapat pelajaran supaya hidup mewah?" Ibnu Muqatil hanya terdiam. Ia tak menjawab pertanyaan Hatim.
Setelah itu Hatim meninggalkan rumah tersebut. Kabarnya, sakit Ibnu Muqatil makin parah. Ia teringat semua perkataan Hatim.
Tak lama kemudian, seorang penduduk ar-Ray mengabarkan kepada Hatim. Ada ulama yang lebih mewah dari Ibnu Muaqatil, namanya ath-Thanafisi, tinggal di Qawazin. Hatim pun segera menuju ke tempat ulama tersebut. Ia meminta diajarkan cara beruwhudu dengan benar. "Tuan, saya akan berwudhu di hadapan tuan. Betulkan saya kalau saya salah, "Hatim memohon dengan sopan. Dia mengambil air, muka, dan membasuh tangan empat kali.
"Hai, mengapa engkau berlebih-lebihan. Engkau membasuh tangan empat kali, "tegur ath-Thanafisi. "Subhanallah, "kata Hatim, segayung air tuan anggap berlebihan. Sekarang bandingkan seluruh kemewahan yang tuan miliki denga milik Rasulullah SAW. apakah ini tidak berlebihan?"
Ath-Thanafisi tidak menjawab. Kabarnya, lantaran malu, dia tidak keluar rumah selama empat puluh hari.
Label:
INSPIRASI
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar